Guru Indonesia, Dinamika di Tengah Keberagaman
Ali Mustahib Elyas

By Ali Mustahib 23 Nov 2021, 17:38:17 WIB Opini
Guru Indonesia, Dinamika di Tengah Keberagaman

Berbicara tentang Guru Indonesia itu sungguh sangat menarik. Secara umum, peran guru Indonesia tidak jauh berbeda dengan peran guru pada umumnya di berbagai tempat. Yakni membantu para siswa dalam menjalani pembelajaran. Namun karena realitas keberagaman yang dimiliki Indonesia, maka peran guru Indonesia dihadapkan pada tantangan yang mengharuskannya bertindak kreatif dan adaptif.

Sebagai pelayan dalam proses pembelajaran, guru Indonesia memiliki panduan dalam menghadapi tantangan itu. Panduan itu misalnya seperti yang telah diajarkan Ki Hajar Dewantoro tentang konsep pendidikan yang tercermin dalam semboyannya, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani yang berarti di depan memberi teladan, di tengah membangun kehendak, ikut di belakang dengan memberi dorongan.

Bagi guru, semboyan itu bermakna bahwa hendaknya ia tampil ke depan (ing ngarso) sebagai contoh teladan, keberadaan guru di tengah (ing madyo) para siswa dapat menggerakkan mereka untuk berbuat, dan saat di belakang (tut wuri) guru mampu mennyemangati para siswanya agar mampu mengaktualisasikan dirinya secara optimal.

Itulah berbagai peran guru yang dapat dilakukan dengan mengacu pada semboyan Ki Hajar Dewantoro. Guru sebagai teladan menunjukkan bahwa ia adalah pelaku utama dari berbagai kebaikan yang diajarkannya. Keteladan ini menjadi kunci paling efektif dari pembelajaran apapun yang dilakukannya terhadap para siswanya. Sebaliknya para siswa bisa tumbuh kesadarannya secara otentik karena melihat contoh kongkrit dari gurunya. Melalui keteladan ini seorang guru tak perlu banyak bicara untuk mengajarkan berbagai kebaikan bagi para siswanya.

Guru sebagai penggerak di tengah-tengah para siswa. Ini merupakan konsekuensi logis dari keteladanan. Seorang teladan dengan sendirinya akan mampu menggerakkan orang lain dengan tanpa banyak bicara. Sikap dan langkah-langkahnya menjadi inspirasi bagi orang lain. Kadang ia sendiri tidak menyadari apa yang dilakukannya itu telah diikuti orang lain. Hal ini dapat dipahami karena apa yang dilakukan orang lain itu bukan hasil indoktrinasi. Melainkan tumbuh dari kesadarannya sendiri sehingga mereka dapat melakukannya sesuai dengan kepribadiannya masing-masing. Secara substansi mereka mencontoh gurunya tetapi secara implementatif mereka bebas mengekspresikan atau mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu yang unik.

Guru sebagai pendorong saat berada di belakang. Ini menunjukkan bahwa guru memahami posisi siswa dalam pembelajaran bukanlah sebagai obyek melainkan subyek. Sebagai pelaku pembelajaran, siswa memiliki kemandirian untuk mengaktualisasikan diri atas apa yang telah dipelajarinya. Saat itulah guru perlu memberi dorongan semangat pada para siswanya agar memiliki kepercayaan diri yang penuh.

Melalui konsep pendidikan Ki Hajar Dewantoro itu diharapkan siswa dapat mencapai tujuan pembelajarannya secara optimal. Yakni menjadi pribadi yang mandiri, pribadi yang merdeka seperti yang ditakdirkan Tuhan atas dirinya sebagai manusia.

Ya. Manusia adalah makhluk merdeka yang hanya boleh bergantung pada Tuhan semata. Konsekuensinya, manusia harus mampu menyatu dengan sesama makhluk Tuhan lainnya. Dalam konteks ini, ia disebut sebagai makhluk sosial. Yaitu makhluk yang kehidupannya tak bisa dilepaskan dari peran-peran orang lain. Namun demikian, ia tetap seorang individu yang telah dianugerahi Tuhan dengan berbagai keunikan. Maka keunikan ini tak boleh diseragamkan. Inilah kehidupan makhluk terbaik ciptaan Tuhan yang bernama manusia.

Walisongo, majlis dakwah yang beranggotakan sembilan ulama yang hidup pada abad 18, terkenal dengan pandangan-pandangannya yang arif bijaksana dalam memandang keunikan kehidupan manusia itu. Keunikan hidup manusia yang dengan sendirinya melahirkan keberagaman di berbagai aspek budaya, sosial, dan agama.

Peran-peran walisongo yang bertolak dari pemahamannya yang sangat baik atas keberagaman itu telah terbukti berhasil melancarkan dakwahnya yang nyaris tanpa menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakatnya. Dengan demikian, gerakan dakwah para walisongo itu telah menjadi prototipe pendidikan di tengah masyarakat yang beragam. menjadi semacam best practice tentang bagaimana praktik pendidikan dapat diterapkan secara efektif (memiliki efek/ngefek) dan efisien (sederhana, tidak ribet, mudah diikuti dan lain-lain).

Sebenarnya kesuksesan walisongo dalam melksanakan dakwah atau pendidikan di tengah masyarakat yang beragam itu merupakan kesinambungan dari kisah-kisah sukses para ulama sebelumnya hingga bermuara pada teladan guru agung Muhamad SAW. Seorang Rasul yang kehadirannya ditetapkan Tuhan sebagai rahmatan lil-alamin atau rahmat bagi seluruh alam. Kehadiran Muhamad untuk menebar kasih sayang terhadap sesama manusia bahkan seluruh alam. Inilah konsep besar yang menjadi ruh bagi seluruh praktik kehidupan, termasuk praktik pendidikan yang dilaksnakan para pewarisnya, yaitu para sahabat terdekat beliau, para ulama, dan juga para guru dalam arti seluas-luasnya. Yakni peran keguruan yang sebenarnya merupakan peran seluruh umat manusia atas dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat. Spirit inilah yang dapat dibaca secara lebih lengkap dalam buku saya yang berjudul "Guru Indonesia, Dinamika di Tengah Keberagaman".




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment